Dadi Wong Jawa Kok KayaK Dipersulit
Wong Jawa menghormati leluhur dengan sowan ke makam, disebut musyrik.
Tapi yang menuduh justru memuliakan makam leluhurnya sendiri—hanya istilahnya berbeda, praktiknya serupa.
Wong Jawa nyuwuk, mendoakan dengan media air atau garam, dicap sesat.
Tapi yang menuduh juga melakukan hal yang sama—air juga didoakan, hanya diganti label agar terlihat sah.
Wong Jawa datang ke dukun dianggap menyekutukan Tuhan.
Tapi ketika datang ke orang yang disebut “pintar”, “ustaz”, atau “guru spiritual”, katanya tidak apa-apa.
Padahal sama-sama manusia, sama-sama perantara—yang beda hanya sebutannya.
Wong Jawa dilarang datang ke tempat peninggalan leluhur sendiri.
Tapi yang melarang justru rajin mendatangi peninggalan leluhur lain.
Lagi-lagi, yang dipersoalkan bukan perbuatannya, melainkan label dan kuasa penafsiran.
Masalahnya sering bukan pada laku, tapi pada siapa yang melakukan dan apa namanya.
Tradisi dipatahkan bukan karena salah, tapi karena tidak lahir dari budaya yang berkuasa.
Wong Jawa akhirnya serba salah:
melestarikan disebut syirik,
meninggalkan disebut durhaka pada asal-usul.
Komentar
Posting Komentar