Ritual Warok
Salah satu budaya tradisional masyarakat Ponorogo yang sampai sekarang masih eksis adalah adanya perilaku ritual warok. Munculnya perilaku ritual ini dinilai sebagai respon positif terhadap tantangan kehidupan modern yang semakin lama semakin mengancam tradisi dan budaya local.
Perilaku ritual yang masih banyak dilaksanakan di kalangan warok ini diwarnai oleh ajaran-ajaran dari luar Islam walaupun juga terdapat praktek dzikir, wirid dan kontemplasi di dalamnya, karena setelah dilaksanakan babad Ponorogo pada tahun 1846 M oleh orang-orang Demak utusan Raden Patah di Ponorogo terjadi akulturasi budaya ajaran Hindu, Budha dan Islam.
Warok dalam terminology budaya Ponorogo sinonim dengan weruk yang artinya besar sekali. Besar disini mempunyai arti kiasan bukan arti yang sebenarnya. Seorang disebut warok jika ia sudah besar sekali wibawanya dan besar sekali kedudukannya di dalam masyarakat.
Seagaimana kerohanian Jawa pada umumnya perilaku ritual warok Ponorogo merupakan pembauran dar berbagai unsur kebudayaan Hindu Budha dan Islam. Akan tetapi perilaku ritual warok ini menekankan aspek hidup yang ideal (urip utama) unsure terpenting dari ajaran warok ini adalah konsep Mangeran Gesang hidup seperti Tuhan dalam skala kecil, karena menurut mereka pada dasarnya mausia ada karena adanya Tuhan Yang Maha Kuasa, ia akan Mangeran Gesang dan memiliki pengalaman-pengalaman batin dan kejadian yang luar biasa baik berupadaya kekuatan lahir (kadegdayan) maupun ketajaman mata batin (kawaskitan). Selanjutnya orang yang telah memiliki dua kesempatan ini berhak menyandang gelar warok, sehingga seorang tokoh yang telah disebut warok Ponoroo ialah orang yang harus benar-benar mampu diandalkan secara fisik amupun mentalnya.
Pada zaman Wengker warok umumnya menjabat sebagai demang, pimpinan reog dan sekaligus menjadi pemain barongan. Ia disegani dan dihormati, gambaran wantah dari seluruh jiwa warok diwujudkan dalam bentuk yang berpawakan tinggi besar, berkumis, dan berjanggut panjang. pada pipi dan dada tumbuh bulu hitam yang lebat, ia memakai pakaian yang serba hitam dengan usus-usus putih yang terikat di pinggang. Menurut keprcayaan seragam hitam yang dikenakan oleh para waarok mengandung makna keteguhan. Sedangkan koloran dan usus-usus yang berwarna putih panjang dan terurai
ujungnya merupakan lambang kesucian budi, ilmu dan tingkah laku. Dari simbol-simbol ini akhirnya didapat pengertian bahwa manusia perlu sekali dikuatkan denga kesucian budi, ilmu an tingkah laku.3
Perilaku ritual warok masih banyak dilakukan baik oleh para pemuda maupun orang tua. Mereka bukan hanya putra-putra warok saja tetapi banyak yang datang dari luar kota Ponorogo. Pada umumnya mereka meguru di padepokan seseorang atau beberapa orang warok sepuh yang masih ada, sebab warok-warok muda belum merasa cukup umur untuk mituwa dengan mengajarkan ilmu yang mereka miliki. Di padepokan itu mereka tinggal mempelajari dan memparaktekkan perilaku ritual (tirakat) ajaran-ajaran mistik (lakon) mulai dari puasa, mati raga (zuhud) dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk mencapai tingkatan Jumbuhing Kawula Gusti.
Perilaku ritual yang dijalankan oleh orang-orang yang tinggal di bekas wilayah kekuasaan Hindu Budha kerajaan Wengker Majapajit dan kerajaan Islam Demak Bintara ini menarik untuk diteliti karena pada komunitas sebagian pemeluk agama Islam di Ponorogo khususnya kalangan warok telah terjadi sintesa antara ajaran Islam dan kejawen. Hal ini disebabkan karena para dai
yang datang untuk menyebarkan agama Islam kebanyakan terdiri dari para penganut tarekat yang sederhana faham keislamannya. Mereka memahami Islam dalam keterkaitan dengan kepercayaan dari tradisi setempat dengan penyesuaian dengan tradisi-tradisi daerah ini, maka Islam mudah diterima tanpa melepaskan kepercayaannya dan tradisi lama. Bahkan orang-orang yang menerima Islam pun disebut santri suatu istilah yang berasal dari masa pra Islam
Profil Warok Ponorogo
Masyarakat Ponorogo seperti masyarakat lain di Indonesia yang memiliki karakter dan budaya local yang harus dipertahankan, salah satu cri khas masyarakat Ponorogo adalah dengan budaya reog dan tokoh waroknya, kalau orang mengenal warok ponorogo maka sebenarnya ia sudah mulai mengenal sebagian dari ciri khas Ponorogo, identitas warok biasanya hanya mereka kenal pada pakaian saja. Pakain ini adalah pakaian khas Ponorogo.
Dalam pengertian sehari-hari kata warok sinonim dengan weruk artinya besar sekali dengan menggunakannya sebagai bahasa local Bocahe wis warok, : anaknya sudah besar, Endi warokane : mana yang besar , paling kuat, paling berani. Bila memperhatikan contoh diatas maka kata warok atau weruk berarti yang paling besar.
Dalam literature sufi (mistik Islam) dikenal istilah wara’ yaitu menjauhkan diri dari segala sesuatu yang mengandung subhat (sesuatu yang belum diketahui hukumnya) yang menyebabkan seseorang terjerumus kepada sesuatu yang haram, wara’ adalah status social bagi seorang yang menempuh jalan sufi, status tersebut secara berrurutan , taubah, wara, zuhud, tawakal, sabar, dan kerelaan.5
Dalam terninoilogi budaya Ponorogo warok dibedakan menjadi tiga, warok tua, warokan dan warok muda. Warok adalah seorang pemimpin yang membawahi warokan dan warok muda jadi warokan dan warok muda berada dibawah tingkat warok. sedangkan warokan adalah terdiri dari pemuda-pemuda jagoan yang pada group kesenian reog ia menjadi pemain ganongan atau yanag memaikan barongan, sedangkan warok adalah pinituwa (pemiminnya).
Seorang disebut warok jika ia sudah besar sekali wibawanya dan besar sekali kedudukannya dalam masyarakat. Ia disegani dan dihormati, gambaran wantah dari seorang warok adalah diwujudkan dalam bentuk perawakan besar,
berkumis, berjanggut panjang. Pada pipi dan dada tumbuh bulu-bulu hitam, menurut kepercayaan hitam mengandung makna keteguhan sedangkan lambing kesucian budi, ilmu dan tingkah laku berupa koloran dan usus-usus yang berwarna putih, panjang dan terurai ujungnya. Dari sini akhirnya didapat pengertian bahwa manusia itu perlu sekali dikuatkan dengan kesucian budi, ilmu dan tingkah laku.
Dahulu warok pada umumnya menjabat sebagai demang, sedang dalam kesenian reog ia sebagai pimpinan yang sekaligus menjadi pemain barongan hal ini dengan harapan agar jiwa kstatria dan keteguhan hati secara tidak langsung menjiwai seluruh konco reog atau pelaku dalam kesenian reog.
Warok Ponorogo memiliki ritual khsusus ketika mereka hendak mempertahankan daya mistik mereka atau bagi warok-warok muda yang ingin mendalami ngelmu mereka harus melakukan sembilan macam kautaman dilanjutkan dengan melakukan pensucian diri yang meliputi tiga hal yaitu sucining swara (kesucian suara) sucining tenogo (kesucian tenaga) sucining roso (kesucian rasa)
Kesucian suara terletak pada manusia yang telah menguasai ngelmu yang sempurna, ngelmu yang sempurna adalah perkataan dan ucapan yang tidak meresahkan orang lain yang mendengar. Kesucian tenaga terletak pada manusia yang telah memeluk agama sempurna, yaitu jika amal perbuatannya telah tidak merugikan orang lain yang melihatnya. Kesucian raga terdapat pada manusia yang telah menguasai pengetahuan yang sempurna, yaitu perasaan yang tidak mnyakitkan perasaan orang lain. Perilaku ritual ini dalam perspektif Weber diklasifikasikan dalam Tindakan rasional berorientasi nilai, tindakan ini terarah pada nilai, bersifat rasonal dan mampehitungkan manfaatnya, tetapi tujuan yang hendak dicapai tidak terlalu dipentingkan oleh si pelaku. Pelaku hanya beranggapan bahwa yang paling penting tindakan itu termasuk criteria baik dan benar menurut ukuran dan penilaian masyarakat.
mensucikan suwara, tenaga dan perasaan menurut Suwito8 adalah sebagai berikut :Suwara bisane suci kudu muji marang kang duwe uni, tenogo biane suci kudu menembah marang nkang polah, roso bisane suci kudu sumujud marang kang idup (Kesucian suara bias dijaga dengan tidak berkata bohong, dengan berkata jujur dan sebenarnya, Kesucian tenaga dapat dijaga dengan baik tidak melakukan kesalahan menjaga kebenaran,
Dalam hal ini Kasni Gunopati menjelaskan bahwa untuk mensucikan suara tidak hanya cukup dengan apa yang telah disebut ki Suwito seperti diatas, tetapi untuk mensucikan suara harus digunakan untuk memuji dzat yang bersuara yaitu dengan japa mantra dan do’a. Sedangkan untuk mensucikan tenaga juga harus menggunakan tenaga yaitu dengan menyembah kepada yang menciptakan gerak dan aktifitas, oleh karenanya lalu terdapat kegiatan shalat dan semedi. Adapun rasa dan perasaan dapat disucikan dengan rasa dan perasaan itu sendiri yakni dengan melakukan sujud terhadap Yang Maha Hidup, sujud harus dilakukan dengan penuh perasaan. Selanjunya menurut Kasni Gunapati9 hal-hal yang harus disucikan itu sebenarnya tidak banyak hanya tiga hal yaitu wujud, rasa dan daya kekuatan. Karena itu beberapa hal yang harus dilaksanakan adalah 1).Patrap lungguh (shalat Da’im) iku kanggo ngenengake wujude 2).Patrap sujud (semedi) iku kanggo ngenengake rasane 3) Patrap ngadeg (salat kajat) iku kanggo ngenenange kuasane
Jadi Menururt Kasni Gunopati untuk mensucikan tiga hal yang telah disebutkan diatas manusia harus melakukan tiga patrap (aktifitas) yaitu aktifitas duduk, disebut shalat daim, dilakukan untuk mensucikan wujud, aktifitas sujud disebut semedi untuk mensucikan rasa dan perasaan dan aktifitas berdiri atau disebut salat hajat untuk mensucikan daya kekuatan. Tahap berikutnya selain melakukan tiga aktifitas diatas, juga harus melakukan tirakat mengurangi makan untuk mensucikan wujud, mengurangi tidur untuk mengurangi rasa dan perasaan dan menacegah sahwat untuk mensucikan daya kekuatan “Tirakat ngurangi mangan iku kanggo ngresiki wujude, tirakat ngurangi turu iku kanggo ngresiki rasane, tirakat cegah syahwat iku kanggo ngresiki kuasane”.
Melaksanakan usaha-usaha patrap dan tirakat seperti diatas disebut Idep, madep, mantep, tetep lan enget, maksudnya Idep (serius) dalam berbicara madep (konsentrasi) ketika berkatifitas mantep (mantap) bila berkehendak tekad (konsisten) pada niat enget (sadar) akan hidup.
Pola perilaku para warok yang ditambahkan oleh Kasni Gunopati semakin mengukuhkan begitu sakralnya perilaku ritual warok karena harus melakukan tiga patrap,yaitu patrap lungguh patrap sujud dan patrap ngadeg ditambah dengan harus mengurangi makan, tidur dan menjaga shahwat.
Komentar
Posting Komentar