AJARAN PIKUKUH WAROK
WAROK adalah Gelar setara dengan Resi atau Begawan atau Pandita yang berasal dari Tanah Wengker. Warok ini berasal dari kata Arok yang artinya petarung. Arti petarung ini adalah bertarung dalam rangka mengendalikan kekauan yang ada dalam diri kita sendiri, bertarung dengan sifat sifat raksasa didalam diri kita sehingga menjadi manusia yang memeliki kesadaran sejati atau manunggaling kawula marang Gusti. Maka tak heran nama Wengker diubah menjadi Ponorogo, karena Ponorogo ini adalah ajaran para warok Pono artinya mengerti, Rogo adalah diri sendiri. Dalam setiap ajaran pasti ada jalur kanan dan krir maka dalam jalur kiri nanti akan disebut dengan nama WAROKAN
Warok itu manusia yang misuwur yang sudah menjadi manusia yang paripurna ( sudah selesai dengan dirinya sendiri ). Sudah mampu memelihara Gemblak (di Gegem lan di BLakne ). Gemblak adalah laku hiduo seorang warok yang sudah mampu Genggem ( memegang erat ) sebuah ajaran yang baik / sifat sifat yang terpuji baik yang dating dari dalam diri warok ataupun dari luar warok, serta mampu nge Blakne (melepaskan dengan ikhlas ) dari hal – hal yang bersifat tidak baik. Ajaran hidup inilah yang nantinya akan mencetak manusia yang mempunyai sikap jujur dan adil, seneng aweweh ( suka memberi ), mangasah mingising Budi, Memasuh Malaning Bumi, Memahayu Hayuning Bawono.
Warok sebaiknya tidak terbawa arus jaman tapi mampu beradaptasi dengan perubahan, melainkan kukuh memberikan wewarah ( pengajaran )nilai – nilai luhur pada Masyarakat. Warok juga dituntut menguasai ilmu kaweruh Kawicaksanan ( Kebijaksanaan ) menguasai ilmu kawisesan ( atau kesaktian ) , meniti jalan kemanusiaan ( reh kamanungsan sejati ) dan warok menjadi sumber ketentraman batin. Warok tidak didasarkan pada keturunan, tapi berdasarkan sikap diri dan sikap batinnya.
Dalam tradisi Ajaran Pikukuh Warok ini kita mengenal yang Namanya Ritual Panca Makara :
Matsya dalam Bahasa sansekerta berarti Ikan. Ini bermaksud adalah ajaran yang menyatakan bahwa kita berlaku seperti ikan yang menyelami Sungai atau lautan kehidupan yang penuh gelombang, liku liku sampai jauh,jangan malah menolak kehidupan dan meninggalkan duniawi. Seorang Warok sejati hendaknya menyelam dan berenang laksana ikan ke dalam Samudra pengetahuan. Ilmu pengetahuan dapat memberikan penerangan pikiran.
Mamsa dalam Bahasa sansekerta berarti daging. Untuk mendapatkan kesadaran tertinggi selayaknya mengurangi makan daging atau bahkan tidak makan daging. Ini bermaksud walaupun menyelam ke dalam keduniawian, tetaplah mengawasi dagingmu / hati / atau bisa jadi ego kita. Mamsa ini mrupakan persembahan sebagai simbolisasi pembinaan dan pengendalian sifat hewani di dalam diri kita. Pengenalan diri sendiri dengan berbagai pertanyaan yang mesti dijawab sendiri, seprti siapa diri ini, mau kemana , kapan dan oleh siapa dll.
Madhya atau mada dalam Bahasa sansekerta berarti minum. Maknanya adalah jangan pernah menyentuh minuman selain yang tercipta murni. Seperti air putih, Air kelapa untuk mencapai kesempurnaan jiwa mencapai Moksa. Artinya adalah minumlah dan teguklah spritualitas , walau hidup dalam materi, minumlah spritualitas itu hingga kamu mabuk ( terbebasa dalam kemelekatan ). Ini merupakan persembahan simbolisasi dari pengendalian segala kemabukan dalam diri yakni mabuk harta, Perempuan, jabatan, kemsyuran dll.
Mudra dalam Bahasa Sansekerta Tarian yang mencapai klimaks / gerak simbolik. Ini dimaksudkan adalah seorang warok mempunyai sikap ( di simbolkan dengan sikap tangan atau jari ) yang mengkhususkan untuk mengarahkan pikiran dan Energi pada SANGHYANG WIDHI WASA agar hadir dalam kuasa yang dahsyat ( sakti ) untuk menghancurkan segala bentuk kekeruhan dan kotoran dalam alam makro dan mikro. Peleburan antara atma dan brahman menyatu sehingga tidak dapat di bedakan karena keduanya menyatu dengan sempurna. Pada tingkatan ini terlepas derita dan suka atau disebut dengan mukti atau alam nirwana.
Maithuna dalam Bahasa sansekerta artinya Hubungan Seksual. Maknanya adalah sesuatu yang selalu berhubungan dengan ilmu pengetahuan sejati, artinya seorang warok harus melakukan hubungan badan dengan ilmu pengetahuan sejati supaya mendapatkan kenikmatan spiritual, menyatukan pikiran kepada kosmis, menghacurkan pikiran, tenggelam kepada kehampaan, mencapai kebebasan pikiran, menyatukan atma dengan brahman.
Puja panca makara ini merupakan cara untuk mencapai tujuan akhir penekun Pikukuh Ajaran Warok yaitu mencapai WAROK dengan kebenaran pengetahuan, sehingga kebebasan dan kebahagian sejati dapat terwujud tujuan akhir MOKSARTHAM JAGADHITA YA CA ITIH DHARMA yang artinya adalah Tujuan hidup untuk mencapai kesejahteraan di dunia ( jagadhita )dan kebahagian di akhirat (moksha ).
Melaksanakan Ajaran Pikukuh Warok akan menuntun pada tujuan yang sama dan juga sekaligus memenuhi kebutuhan manusia yaitu kebebasan yang sempurna, kebebasan yang absolut sehingga tercapai Purnamukti atau yang disebut dengan Manunggaling Kawula Kelawan Gusti.
Di Dalam Ajaran Kadewaguruan Warok Wengker ada beberapa Tataran
1. Kanoman
2. Kanuragan
3. Kadonyan
4. Kasepuhan
5. Kasampurnaan
Komentar
Posting Komentar