Langsung ke konten utama

BHAIRAWA

  ...



Bhairawa

Tantra adalah ajaran yang dikhususkan untuk jaman Kaliyuga, karena pada jaman Kaliyuga ini, tidak mungkin untuk melakukan ritual yang sedemikian rumit dan berbagai tirakat yang terdapat di dalam Veda, akan tetapi alternatifnya adalah melatih Tantra yoga yang akan menuntun pada tujuan yang sama dan juga sekaligus memenuhi kebutuhan manusia. Tantrayana  memusatkan pemujaan terhadap Devi/Dewi sebagai Ibu Bhairawa (Ibu Durga atau Kali). Sebagai sakti (istri) Dewa Siwa, kedudukan Dewi Durga ini lebih ditonjolkan daripada dewa itu sendiri. Peran Dewi Durga dalam menyelamatkan dunia dari ambang kehancuran yang disebut Kalimasada (Kali-Maha-Husada), artinya “Dewi Durga adalah obat yang paling mujarab” dalam zaman kekacauan moral, pikiran, dan perilaku  manusia.


Bhairawa adalah Sekta yang memuja Siwa sebagai Dewa Utama dalam manivestasinya sebagai Siwa Bhairawa. Sedangkan pemujaan terhadap saktinya disebut Bhairawi dengan Dewi Dhurga atau Dewi Kali sebagai Dewi Utama. . Sekta ini juga digolongkan ke dalam Sekta wacamara atau aliran kiri yang mendambakan kekuatan magic yang bermanfaat untuk kekuasaan duniawi.  Bhairawa  adalah Sekte rahasia dari sinkretisme antara agama Budha Aliran Mahayana dengan agama Hindu aliran Siwa Bhairawa yang berarti menakutkan atau mengerikan. Bhairawa merupakan salah satu perwujudan Dewa Siwa dalam aspek peleburan dengan perwujudan yang sangat menyeramkan.Sekte ni dikatakan menyimpang dari ajaran Pancamakara pada Kitab Kali Mantra.


 


Ada tiga aliran ajaran Bhairawa  Tantrayana yaitu: Bhairawa Kalacakra merupakan pertemuan ajaran Buddha dengan ajaran Tantrayana.  Bhairawa Herucakra merupakan ajaran yang muncul dari tradisi kepercayaan Indonesia bercampur dengan Kalacakra. Bhairawa Bima Sakti adalah pertemuan antara ajaran Bhairawa dengan ajaran Siwa. Ajaran Tantra Bhairawa ini bisa dikatakan sebuah penyimpangan dari ajaran Tantrayana yang asli. 


SAKTIISME


Tantrayana termasuk sekta  saktiisme, karena yang dijadikan objek persembahannya adalah sakti. Sakti dilukiskan sebagai Dewi sumber kekuatan atau tenaga. Sakti adalah simbol dari bala atau kekuatan (Sakti is the symbol of Bala or strength) (Das Gupta, 1955 : 100). Dalam sisi lain sakti juga disamakan dengan energi atau kala (This sakti or energi is also regarded as “kala” or time) (Das Gupta, ibid).



Dengan demikian Saktiisme sama dengan Kalaisme. Sekte  Kalaisme atau Kalamuka atau Kalikas dan disebut juga Kapalikas. Sekte ini sejenis dengan aliran Bhairawa atau Tantrayana kiri. Pengikut dari sekte ini di India kebanyakan dari suku Dravida, penduduk asli India, Oleh karena pengikut sekte ini kebanyakan penduduk asli India maka juga disebut Sudra Kapalikas. Dari pendekatan Antropologi budaya, kepercayaan sejenis ini disebut Dynamisme.  


Para ahli dan pakar sejarah juga menyebutkan bahwa Tantra Bhairawa adalah sekte rahasia. Ajaran ini hanya bersifat pemuasan nafsu dan dikucilkan dari Weda. Di Bali, perkembangan daripada Konsepsi Dewi itu nyata sekali berupa pemujaan terhadap Dewi atau Bhatari (misalnya Dewi Saraswati, Dewi Durga, Dewi Sri, Dewi Gangga, Dewi Danuh dan lain sehagainya). Di dalam sistem kekerabatan di Bali, banyak sekali terdapat Pura Ibu yang mempunyai konotasi terhadap Konsep Dewi. Perkembangan Saktiisme di Bali juga menjurus kepada dua aliran mistik yaitu Pangiwa dan Panengen. Dari Pangiwa muncullah pengetahuan tentang Leyak, Desti, Tëluh, Taranjana dan Wegig, sedangkan dari Panengen muncullah pengetahuan tentang Kawisesan, Usadha dan Pragolan.


 



Siwa Bhairawa

SEJARAH


Dasar-dasar paham Tantra sebenarnya telah ada di India sebelum bangsa Arya datang di India, jadi sebelum kitab Weda tercipta. Pada masa itu, di peradaban lembah Sungai Sindu, cikal-bakal paham Tantra telah terbentuk dalam praktik pemujaan oleh bangsa Dravida terhadap Dewi Ibu atau Dewi Kemakmuran. Timbullah paham Saktiisme, atau disebut juga Kalaisme, Kalamukha, atau Kalikas (Kapalikas), yang dianut oleh penduduk asli India tersebut. Sekte ini muncul kurang lebih pada abad ke-6 M, di Benggala sebelah timur. Kemudian menyebar ke utara melalui Tibet, Mongolia, Korea masuk Ke Cina dan Jepang. Sementara itu cabang yang lain tersebar ke arah timur memasuki daerah Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Malah, pada abad ke-7, Kerajaan Sriwijaya merupakan pusat studi Mahayana di Asia Tenggara. 


TUJUAN


Tujuan utama dari Tantra adalah sama seperti tujuan Weda yaitu mencapai Tuhan dan kebenaran, pengetahuan dan kebahagiaan yang merupakan atribut dari yang absolute. Pengikut sekte Bhairawa Tantra berusaha mencapai kebebasan dan pencerahan (moksa) dengan cara yang sesingkat-singkatnya.  Pencerahan bisa diraih melalui sebuah kejenuhan total terhadap kenikmatan duniawi. Tujuan  dari ajaran Tantrayana, tetap menikmati keduniawian, namun spiritualitas harus diutamakan 


Paham Tantrayana-Hindu identik dengan paham Siwa–Bhairawa. Bhairawa (artinya hebat), ini perwujudan Siwa yang mengerikan, digambarkan ganas, memiliki taring, bertubuh besar, dan berwujud raksasa. Kertanegara seorang penganut Bhairawa Kalacakra untuk mengimbangi kekuatan Kaisar Khu Bhi Lai Khan di Cina yang menganut Bhairawa Herucakra. Kebo Parud, Patih Singasari penganut Bhairawa Bhima untuk mengimbangi Raja Bali yang kharismanya sangat tinggi pada jaman itu. Adityawarman penganut Bhairawa Kalacakra untuk mengimbangi raja-raja Pagaruyung di Sumatra barat yang menganut Bhairawa Herucakra.



Aliran-aliran Bhairawa cenderung bersifat politis yang diperlukan untuk memperoleh kharisma dan wibawa yang besar yang diperlukan untuk mengendalikan pemerintahan dan menjaga keamanan wilayah kerajaan. Sekte Bhairawa aliran kiri menggunakan aksara modre, sedangkan sekte Bhairawa aliran kanan lebih cenderung menggunakan aksara wreastra swalalita. Pada intinya ajaran Bhairawa di Bali adalah untuk pencapaian  Tuhan Yang Maha Kuasa.  Untuk mencapai tujuan ini, orang Bhairwa sendiri dengan melaksanakan hal yang lebih instan dengan 3 tahapan, yaitu :


1.     Upanisan (mengasingkan diri)


2.     Kabumian (laku tirakat seperti Bumi)


3.     Upawasa (Menahan hawa nafsu)


Jika seorang telah melewati 3 tahapan diatas dengan lancar maka orang tersebut dapat hilang atau lenyap dari dunia langsung menuju nirwana atau surga, dan  akan mendapatkan suatu kekuatan sakti, dan juga  mampu membuat pellet, pesugihan, santet, pengasiham dll.


 


Siwa Bhairawa

Tantrayana mengenal adanya meditasi dengan menggunakan alat berupa mandala (bagi penganut Buddha) atau yantra (bagi penganut Hindu). Mandala adalah yantra yang dianut Hindu dalam variasi lain yang bercorak Buddha, yakni lukisan yang berfungsi sebagai alat bantu dalam meditasi sehari-hari. Alat tersebut dibuat dari tanah, kain, pada dinding, logam, atau batu, yang harus digunakan oleh mereka yang mencari pelepasan dari rangkaian siklus (lingkaran) kelahiran kembali. Penggunaan mandala/yantra ini biasanya dibarengi dengan memegang aksamala (tasbih atau rosario) dengan tangan kanan untuk menghitung mantra yang diucapkan terus menerus hingga kadang-kadang orang yang bersangkutan merasa bebas dari keadaan di sekitarnya. Tantrayana mengajarkan agar badan, perkataan, serta pikiran digiatkan dengan  ritual, mantra, dan samadi. Jaman Kaliyuga atau Kalisangghara ini hanya mempelajari, menjalankan dan memahami secara utuh ajaran Bhairawa akan dapat mencapai kebebasan yang sempurna. Melaksanakan ajaran Bhairawa akan menuntun pada tujuan yang sama dan juga sekaligus memenuhi kebutuhan manusia, yaitu kebebasan yang sempurna, kebebasan yang absolut sehingga tercapai purnammukti. Purnammukti merupakan kebebasan yang tertinggi dicapai oleh Atman, di mana Atman  bersatu dengan Brahman


 


Hingga sekarang aspek shaktisme masih bisa dijumpai dalam tradisi Jawa seperti ritual melakukan tirakat/puasa untuk mendapatkan kekuatan, juga penggunaan benda-benda pusaka guna mendukung kepentingan tertentu, seperti kewibawaan, kekuatan, dan lain sebagainya


KITAB-KITAB


Meski Raja Sindhok penganut Siwa, ia menganugerahkan Desa Wanjang sebagai wilayah sima (yang dibebas pajakkan) kepada pujangga bernama Sambhara Suryawarana yang menyusun kitab Tantra, Sanghyang Kamahayanikan.


Kitab-kitab  yang memuat ajaran Tantrayana banyak sekali, kurang lebih ada 64 macam, antara lain: Maha Nirwana Tantra, Kularnawa Tantra, Tantra Bidhana, Yoginirdaya Tantra, Tantra sara.


 

 

AJARAN BHAIRAWA


Parvati, sering bertanya kepada Siwa mengenai pengetahuan rohani. Siwa memberikan jawabannya, dan kumpulan tanya-jawab tersebut dikenal sebagai Tantra Shastra. Prinsip-prinsip Tantra terdapat dalam Nigama, sedangkan praktik-praktiknya dalam buku Agama. Sebagian buku-buku kuno itu hilang dan sebagian lagi tak dapat dimengerti karena tertulis dalam tulisan rahasia yang dimaksudkan untuk menjaga kerahasiaannya. Ajaran Sekte Bhairawa merupakan ajaran pembangkitan kundalini enam cakra dalam tubuh manusia, pengolahan daya bathin untuk menimbulkan kekuatan-kekuatan gaib/mistik.


Konsepsi-Ketuhanan (Theisme) dalam Tantrayana adalah Monoisme yaitu pemujaan terhadap satu Tuhan yang disebut Brahman.   Konsep ini dijelaskan dalam Mahanirwana Tantra  dengan suatu kalimat berbunyi: “Om Saccidekam Brahman” (Om, hanya satu kesadaran tertinggi yang disebut Brahman), Konsep Monisme ini muncul dari pandangan Advaita dalam Wedanta Darsanam. Ajaran Tantrayana dibentangkan dalam kitab-kitab Tantra-Sastra yang juga disebut kitab-kitab agama yang banyaknya kurang lebih 64 buah. Panca Makara merupakan lima ajaran dan ritual  inti yang digunakan sebagai dasar dan acuan dalam mencapai Moksa. Ajaran Panca Makara menurut Tantrayana yang asli,  bersumber dari kitab Kali Mantra dan kitab Mahanirvana Tantra jelas disebutkan sebagai berikut (terjemahannya saja):


(“Mabuk, memakan daging, memakan ikan,melakukan sexualitas dan meditasi, akan menuntun kepada Moksha pada jaman Kaliyuga ini”).


Dalam Kitab Maha Nirvana Tantra tercantum:


(“Minum, teruslah minum hingga kamu terjelembab ke tanah. Lantas berdirilah kembali dan minum lagi hingga sesudah itu kamu akan terbebas dari punarjanma (kelahiran kembali) dan mencapai kesempurnaan. /Moksha.”).


Maksud dari ayat yang dipaparkan dalam Kitab Kali Mantra adalah, dengan ritual  tersebut, maka akan dicapai Moksha pada jaman Kaliyuga yang tengah berlaku sekarang.


Ritual Panca Makara terdiri dari :


1. Matsya dalam  bahasa Sansekerta berarti ikan. Penganut Sekte Bhairawa yang menyimpang mengartikan harus memakan ikan agar bisa Moksa. Ajaran Bhairawa yang sesungguhnya justru tidak menganjurkan seseorang untuk menangkap dan memakan ikan agar dapat mencapai Moksa. Artinya jadilah seekor ikan yang menyelami sungai/lautan kehidupan, jangan  malah menolak kehidupan dan meninggalkan dunia.  Matsya bukan lagi pemujanya memakan ikan sampai muntah, tetapi dijadikan persembahan pokok sebagai isyarat bahwa seorang Bhairwin sejati hendaknya meyelam laksana ikan ke dalam samudra pengetahuan.


2.   Mamsa dalam Bahasa Sansekerta berarti daging, dan umumnya mereka yang salah menganggap Mamsa artinya harus makan daging (semua daging), bahkan tak jarang beberapa oknum juga nekat memakan daging manusia sebagai pemenuhan unsur mamsa ini. Pemahaman itu sangat keliru, yang dimaksudkan bukan harus makan daging, justru dalam ajaran tersebut untuk mendapatkan kesadaran tertinggi dilarang untuk makan daging),, artinya walaupun menyelam dalam keduniawian, tetaplah mengawasi liarnya dagingmu/ egomu. Mamsa bukan lagi pemujanya memakan daging sepuasnya, tetapi dijadikan inti persembahan sebagai simbolisasi pembinasaan sifat hewani dalam diri.


3. Madhya atau Mada dalam Bahasa Sansekerta berarti minum. Makna sebenarnya adalah jangan pernah menyentuh minuman, selain yang tercipta murni, seperti air putih, untuk mencapai kesempurnaan jiwa mencapai Moksa. (Minum  hingga mabuk berat), artinya minumlah dan reguklah spiritualitas, walau hidup dalam mater

i, minumlah spiritualitas itu hingga kamu mabuk dengannya. Mada bukan lagi pemujanya minum minuman keras hingga mabuk, tetapi hanya dijadikan sarana persembahan simbolisasi dari pengendalian segala kemabukan dalam diri, yakni mabuk harta, perempuan, jabatan, kemasyuran dll.  






4.  Mudra  berarti tarian yang mencapai klimaks. Secara umum Mudra memiliki banyak arti, ada yang mengartikan sebagai menari hingga lemas, ada juga mengartikan sebagai makanan yang sudah direbus. Pengikut Sekte Bhairawa umumnya sangat gemar menari, setiap ritual mereka tidak akan berhenti menari sebelum mencapai klimaks atau kelelahan. Mudra sikap tangan dipraktekkan dalam bentuk postur jari khusus untuk mengarahkan pikiran dan energi pada sang Bhairawa dan Bhairawi agar hadir dalam bentuk kuasa energi yang dasyat, menghancurkan segala bentuk kekeruhan bhatin dan kekotoram pada alam makro dan mikro


5. Maithuna artinya hubungan seksual. Pemahaman tentang Maithuna yang paling besar dampak kesalah pahamannya. Banyak oknum yang menganggap dengan berhubungan seks bareng-bareng di Ulun Setra/Kuburan sebanyak mungkin, akan dapat mencapai Moksa dengan mudah. Sedangkan maksudnya capailah orgasme spiritual, satukan sakti/kundalini dengan atmanmu. Maithuna tidak lagi dipraktikan melalui hubungan badan (sex) sepuasnya tetapi dipraktikan dalam sikap asanas dalam pemujaan, yakni lidah disentuhkan ke langit-langit simbol penyatuan yang rahasia.


Dalam ajaran Tantra Bhairawa, ritual-ritual Panca Makara, benar-benar dijalankan apa adanya.


Ada beberapa pendapat dan spekulasi yang menyatakan bahwa ajaran Tantra Bhairawa adalah hasil dari pecahan Hindu Ciwa dengan pecahan Budha  Mahayana. Aliran ini adalah sekte kebalikan dari ajaran Hindu yang menyatakan,  “untuk mencapai nirwana, manusia harus meninggalkan sisi keduniawian atau meninggalkan keinginan”. Pengikut Bhairawa menolak menyembah langit atau Tuhan untuk mencapai nirwana dan memilih menyembah Dewi Bumi. Ajaran Bhairawa Tantra sebenarnya bukan merupakan sempalan dari penganut ajaran Hindu dan Budha. Sadaka yang belajar Tantra Bhairawa ada beberapa tingkatan yang hendaknya dilalui.


1. Tingkatan pertama, yakni sadaka hendaknya tidak menjalankan aturan-aturan tertentu dengan ketat, misalnya maituana (berhubungan badan) boleh sadaka melakukan sepuasnya asal dengan pasangan yang tepat (hubungan suami istri).


2.   Tahapan kedua, yakni sadaka melakukan beberapa pantangan khusus,


3.  Tahapan terakhir adalah melakukan pantangan yang ketat. Memasuki tahapan terakhir inilah Panca Makara hendaknya dipahami secara mendalam, bukan kulit luarnya, sehingga kebahagiaan yang maha tinggi akan dirasakan oleh sadaka.


Tantrayana mengajarkan agar badan, perkataan, serta pikiran digiatkan oleh ritual, mantra, dan samadi.




RITUAL


Pengikut sekte ini justru melakukan ritual-ritual tertentu yang bagi selain mereka dianggap sebagai larangan. Hal ini sebagai usaha agar manusia bisa secepatnya meniadakan dirinya sendiri dan mempersatukan dirinya dengan Dewanya yang tertinggi. Ritual mereka bersifat rahasia dan sangat mengerikan, yaitu menjalankan Panca Makara Puja. Ritual di kuburan selalu identik dengan laku Tantrayana, kuburan atau lapangan mayat menurut penganut ajaran ini dianggap sebagai tempat ikatan Samsara dilepaskan. Tempat di mana kehidupan duniawi berakhir. Lapangan mayat adalah tanah suci yang paling tepat untuk melakukan  tindakan upacara bernilai tinggi, khususnya upacara pembebasan. Pelaksanaan ritual dalam Sekta Bhairawa hampir ada kemiripan dengan ritual Budha Bajrayana yang berkembang di Tibet. Di Tibet sarana pemujaannya menggunakan tengkorak bhiksu suci yang sudah meninggal sebagai tempat darah, dan menggunakan japa mala dari tulang manusia. Sesugguhnya implikasi dari pemujaan ini adalah mendamaikan dan menetralisir segala kekuatan negatif yang ada di bumi. Menggunakan sarana ritual yang ekstrim sesungguhnya adalah sebagai media di dalam menghubungkan diri dengan Siva agar berkenan memberikan anugrah keseimbangan semesta.


 Baca : SHAMBALA KERAJAAN DIMENSI LAIN, Klik Di Sini


Ritual Panca Makara puja ini, selain dilaksanakan oleh Kertanegara juga dilaksanakan oleh Adityawarman, raja dari kerajaan Melayu yang juga menantu dari raja Majapahit.  Mungkin ini terlalu dilebih-lebihkan yang menyatakan : Penobatan  Adityawarman dilaksanakan di tengah-tengah lapangan mayat. Sambil duduk di atas timbunan mayat yang berbau busuk, sang raja tertawa sambil meminum darah. Anehnya, konon bagi Adityawarman mayat tersebut harum semerbak baunya. Ritual ini sangat jelas tergambar dari patung Adityawarman di Museum Nasional yang terlihat tengah memegang cawan darah,  dan  tengkorak menjadi pijakannya. Penggambaran Bhairawa membawa pisau konon untuk upacara ritual Matsya. Membawa mangkuk itu untuk menampung darah untuk upacara minum darah. Sementara tangan yang satu lagi membawa tasbih. Wahana atau kendaraan Siwa dalam perwujudan sebagi Siwa Bhairawa adalah serigala karena upacara dilakukan di lapangan mayat dan serigala merupakan hewan pemakan bangkai.


  




Kertanegara


Lalu mengapa dengan pengorbanan darah tersebut? Bhairawa memang  selalu melaksanakan cara yang ekstrim. Tetapi cara yang demikian hanyalah sebuah simbol rahasia yang mengalir dari percakapan Bhatara Siwa dan Bhatari Uma.


1.  Hewan dipotong dan darahnya di jadikan persembahan pada lingam,  simbol  untuk menaklukkan kebuasan.


2. Minuman keras dipersembahkan simbol segala kemabukan duniawi hendaknya dipersembahkan atau dikembalikan/dikendalikan. Melalui ritual persembahan khusus darah binatang dan minuman keras makhluk (virus) penyebar wabah dapat dinetralkan.


3.  Uang dipersembahkan simbol untuk jangan diperbudak harta kekayaan.


4.  Bunga dipersembahkan sebagai bentuk penyucian (ktarsis),


5. Buah dihaturkan simbol pengabdian dengan mempersembahkan segala bentuk tindakan.


6.  Dupa simbol kebangkitan cahaya,


7.  Tirtha simbol kehidupan sebagai amrtam.


8.  Mantra dan Mudra sebagai nyanyian dan gerak simbol keteraturan dari gerak alam.


Hidup kalau mau subur ikuti gerak alam sebagaimana ia  berjalan secara alami  dalam keteraturannya,


Di dalam kitab Mahanirwana Tantra dibentangkan prinsip-prinsip upacara Panca-Yajna yang perlu dilaksanakan. Disebutkan pula materi atau sarana-sarana yang digunakan upakara termasuk penggunaan binatang korban dalam kaitannya dengan caru. Tantrayana secara rinci menjelaskan tata-cara melakukan yajna serta kepada siapa yajna itu dipersembahkan. Dengan memperhatikan isi kitab-kitab Tantra Sastra yang memuat ajaran Tantrayana dapat dipahami, bahwa bentuk-bentuk upakara dan upacara yajna yang diselenggarakan di Bali, secara jelas terlihat adanya pengaruh dari Tantrayana, di samping juga berpegang kepada berbagai Sastragama Hindu sebagai penjabaran dan Catur Weda


Pengendalian diri melalui tapa dan brata sangat ditekankan dalam Tantrayana. Istilah tapa berasal dan akar kata tap artinya panas. Bertapa artinya memusatkan pikiran (cita) kepada Brahman dalam manifestasi tertentu. Di dalam melaksanakan pemusatan pikiran itu badan akan terasa panas. Menurut Yoga-Kundalini, bahwa panas yang muncul pada diri kita ketika memusatkan pikiran itu, akan membakar kekotoran (mala) yang melekat pada Sthulasarira, suksmasarira dan antahkarana (malatraya). Brata adalah suatu disiplin batin yang memuat dua hal yaitu : keharusan dan larangan; apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Mahanirwana Tantra yang dijadikan dasar pegangan oleh Tantrayana sangat kaya dengan Puja dan Mantra, Mantra-mantra seperi : Mula Mantra, Bija-Mantra, Kutha Mantra, Astra Mantra, dan Kawaca Mantra serta berbagai Wijaksara (magic sylable). Mudra dan Nyasa (lambang-lamhang gaib) dalam konteks upacara agama,  sampai sekarang digunakan oleh Sulinggih di Bali.


 



SITUS PURBAKALA


Tantra menjalankan ibadahnya di bangunan-bangunan megalitik. Candi Sukuh, Bukti Fisik Keberadaan dan Jejak Tantrayana. Di Jawa Tengah, misalnya, kita dapat melihat bukti tersebut di komplek Candi Sukuh di kaki Gunung Lawu, Dukuh Berjo, Desa Sukuh, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar. Berdasarkan tulisan candrasangkala di gapura teras 1 dan 2, candi ini didirikan antara tahun 1437-1456 M; jadi di era Majapahit menjelang keruntuhannya. Struktur bangunan candinya sendiri berbentuk piramida—mirip peninggalan budaya Maya di Meksiko atau Inca di Peru.




                                                                  Candi Sukuh.

Ada yang mengatakan bahwa Candi Sukuh dibangun oleh pengikut Siwa, ditandai dengan relief Kidung Sudamala dan relief lingga-yoni (yang jumlahnya lebih dari satu). Kidung Sudamala (diadaptasi dari salah satu parwa Mahabharata) mengisahkan lakon Sadewa (bungsu Pandawa) yang menyembuhkan putri seorang pertapa  Ni Padapa yang buta dan juga harus membebaskan Bhatari Durga (dewi utama sesembahan Tantris).


Terdapat tiga jenis peninggalan Bhairawa purbakala yaitu :


1. Bhairawa Heruka yang terdapat di Candi/Biaro Bahal, atau Candi Portibi adalah kompleks candi Budha aliran Vajrayana yang terletak didesa Bahal . Kecamatan Portibi, Kabupaten Padang Lawas, Sumatera Utara, serta situs Biaro/ Candi Tandihat II berada di Desa Tandihat, Kecamatan Barumun Tengah, Kabupaten Padang Lawas, Provinsi Sumatera Utara  Arca Bhairawa dianggap sebagai perwujudan Adityawarman. Tingginya sekitar 4,41 m. Sosoknya menyeramkan. Ia berdiri di atas mayat seorang guru bertubuh kecil, dengan kaki terlipat di bawah badan, yang berbaring tanpa pakaian di atas sekumpulan tengkorak manusia. Sosok itu memegang sebilah pisau dan mangkuk. Dua ekor ular melingkari kakinya. Ia seperti mengenakan sarung kotak-kotak dengan hiasan tengkorak di tengahnya. Ikat pinggangnya berhias kepala kala. Kedua pergelangan tangan dan lengannya memakai gelang ular. Atribut arca Heruka ialah wajra atau kilap disertai petir pada tangan kanan, mangkuk tengkorak pada tangan kiri, tangkai katwanggu (Trisula dihiasi dengan tengkorak-tengkorak manusia dan sebagainya) menekan pada badannya. Keadaan seperti itu dalam upacara-upacara Tantrayana adalah biasa dan merupakan keharusan disertai dengan tertawa yang hebat, hal itu dipahatkan dalam salah satu prasasti di Padang Lawas.



Relief Candi Bahal

Adityawarman adalah panglima Kerajaan Majapahit. Ia diutus untuk ekspedisi ke Darmasraya, Sumatera tahun 1347. Di sana, Adityawarman dijadikan raja Pagaruyuang . Wujudnya pun diabadikan menjadi patung raksasa di Candi Biaro Bahal II, Padang Lawas. Kini, arca  Bhairawa Heruka itu ditempaatkan di salah satu ruang utama Museum Nasional.


2. Arca Bhairawa Kalacakra, Kertaanegara dapat ditemukan   di candi Singasari, Jawa Timur, tingginya 167 cm,   duduk di atas seekor anjing atau Srigala dalam keadaan telanjang bulat dengan hiasan-hiasan tengkorak  manusia pada seluruh badannya. Atribut pada tangan arca ialah sebuah pisau besar, trisula, gendang, dan mangkok tengkorak. Raja Singasari Kertanegara menganut Bhairawa Kalacakra, untuk mengimbangi kekuatan Kaisar Mongol Khu Bhi Lai Khan yang menganut Bhairawa Heruka. Adityawarman juga menganut Bhairawa Kalacakra, ajian yang  cenderung digunakan untuk mendapatkan kharisma  besar. Seperti halnya dalam dunia politik, pengendalian pemerintahan dan menjaga keamanan wilayah kekuasaan kerajaan sangat diperlukan. Karena itu raja-raja dan petinggi pemerintahan serta pemimpin masyarakat pada zaman dahulu banyak yang menganut aliran sekte ini. Kalacakra selain sebagai ilmu kedigjayaan, juga dipakai dalam ilmu rajah Kalacakra , ajian ini bermula dari penulisan mantram sakti di dada Batara Kala  oleh Batara Guru yang menyamar sebagai dalang Kandhabuwana.  Dan dibuatnya  Rajah  Kalacakra dimaksudkan agar siapapun yang bisa membacanya dan siapa saja yang bisa mengucapkan mantram tersebut tidak akan menjadi korban dan tidak akan diganggu oleh Batara Kala sebagai pembawa sengkala.


JAINISME, agama yang atheis, Klik Di Sini


Rajah Kalacakra menjadi sebuah kekuatan  gaib  yang merubah suatu keburukan menjadi kebaikan, sebuah doa kepada Yang Maha Kuasa supaya merubah suatu kondisi yang buruk menjadi kondisi yang baik. Semua kejadian buruk dalam kehidupan manusia dipercaya selain sebagai suratan nasib/takdir , juga banyak berkaitan dengan  karma. Bisa karma dari masa lalunya, karma dari perbuatan-perbuatannya yang sekarang, karma dari kondisi kelahirannya, juga imbas dari karma / kesialan yang dibawa oleh orang lain (misal : ikut menjadi korban kecelakaan lalu-lintas, dsb). Pada perkembangan selanjutnya Rajah Kalacakra diwujudkan menjadi mantra untuk menangkal berbagai kekuatan  magis  jahat yang dapat mengganggu keselamatan lahir dan batin. Selain digunakan untuk melindungi diri dari gangguan dan serangan gaib mahluk-mahluk halus, juga memberikan perisai pagaran gaib kepada para penggunanya agar terhindar dari segala keburukan atau ketidak-nyamanan dalam kehidupan. Oleh karena itu, Rajah Kala Cakra sering digunakan dalam  ruwatan-ruwatan tradisi Jawa  dengan membacakan mantra-mantranya.  Di India  sendiri upaya ruwatan dan bersih diri banyak juga dilakukan, terutama berupa ritual khusus di sungai  Gangga .




 Borobudur, Kalacakra skala besar


3.  Dari jaman Kebo Parud di Bali, di daerah Pejeng didapatkan sebuah arca Bhaiwara. Arca itu tingginya 360 cm dengan bentuk badannya yang besar dan tegap, berdiri di atas mayat manusia. Bentuknya yang demikian menunjukkan Dewa Siwa dalam keadaan marah (krodha). Arca Bhairawa Bima di Bali kini ada di Pura Kebo Edan, Bedulu Gianyar. Patung  setinggi 3,6 meter inilah daya tarik utama  Pura Kebo Edan. Arca ini diperkirakan berasal dari pertengahan abad XIV M, yaitu pada masa kekuasaan Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten , raja terakhir Kerajaan Bedahulu; bahkan kemungkinan menggambarkan perwujudan raja itu sendiri.  Akan tetapi, pakar yang lain berpendapat bahwa arca ini kemungkinan peninggalan Raja Kertanegara  tatkala menaklukkan Bali pada abad XIII. Patung tersebut tampak sedang berkacak pinggang dengan kaki mengangkang, rambut gimbalnya tergerai, wajahnya kurang jelas karena konon ia mengenakan topeng dengan pita pengikat di belakang kepala. Kaki kanan dan kiri masing-masing dibelit oleh seekor  ular . Ular adalah salah satu cirri bhairawa  (dewa yang sedang menunjukkan kehebatan, kekuatan, dan sisi seramnya). Ciri lainnya, adalah upacara pengorbanan manusia . Posisi arca Siwa Bhairawa ini seolah sedang menari di atas mayat  manusia. Sementara itu, setelah mengamati posisi dan bentuk kelamin arca, serta ciri-ciri yang lain (ular, tubuh yang gemuk tegap, sikap kaki), Beranet Kempers berpendapat bahwa arca ini merupakan perwujudan Siwa  sebagai Bima ; mirip dengan perwujudan Bima pada relief-relief candi Jawa Timur. Di halaman pura Kebo Edan terdapat pula arca-arca raksasa. Satu arca itu ditempatkan pada satu bangunan kecil di muka sebelah kanan arca Siwa Bhairawa, sedangkan satu lagi ditempatkan pada satu bangunan di sebut Pelinggih Bhatara Kebo Edan. Kedua arca raksasa masing-masing tangannya membawa mangkok-mangkok darah yang dihiasi dengan hiasan-hiasan tengkorak. Arca-arca itu dalam sikap berdiri, roman mukanya sangat mengerikan dengan mata melotot. Demikian pula seluruh kepala dan lehernya dihiasi dengan rangkaian tengkorak, sambil menghisap darah musuhnya dari mangkok darah yang dibawanya. Telinganya menggunakan anting-anting dengan hiasan tengkorak pula.  




     Pura Kebo Edan, Pejeng, Bali

Setelah permaisuri Mahendradhatta mangkat lebih dahulu dari raja Udayana dan didharmakan di Burwan, Kutri, Gianyar. Di tempat itu beliau diwujudkan dalam bentuk arca besar Durgamahisasuramardhini. Arca itu merupakan Bhatari Durga yang sedang membunuh asura (setan) yang berada pada badan seekor kerbau besar. Lebih jauh, perwujudan arca Bhairawa ini beserta segenap kelengkapannya,  mengisyaratkan  adanya kultus  Tantrayana .


 



Komentar